Hari ini tergambar dari suasana dari hati yang tak suka dengan hari yang cerah.
Aku menatap kesana dan kesini tapi semuanya sama hanya debu yang mengebul yang terlihat dengan dibumbui oleh anak-anak Batara yang berlalu lalang dengan jumlah yang tidak lebih dari 4 anak itu. Mereka berjalan di jalanan yang berukuran 2 meter, dan aku pun termenung ketika melihat awan yang semakin menguning , maklum waktu sudah menunjukan pukul 5 sore.
            Ngok-ngok-ngok suara bising ternak angsa merusak suara bising sapu yang di gunakan oleh simbah untuk menyapu halaman yang penuh dengan daun beringin yang tumbuh di hutan Batara. Simbah berusia kira-kira 68 th. Dia besamanaku di usir menuju batara.
            Hening kembali menyergap, simbah berhenti menyapu daun yang sudah hampir berisi itu. Penerangan yang menggunakan Damar sentir membuat hari Yang berubah jadi gelap. Saya bersama simbah Dibuang di pembuangan Batara. Rumah kami berdua terbuat dari bahan-bahan alami, atap yangreok terbuat dari daun pohon aren dan pohon kelapa dan tiang rumah terbuat dari  kayu yang sudah lapuk termakan usia , sering aku melihat dari jauh rumah ini bagai kandang ayam yang sudah hampir rubuh, tanpa anginadsn topan.
            Kira-kira 7 keluarga lainya juga tinggal di pembuangan BATARA ini, usia mereka msih sangat produktif juga, tapi banyak diantara mereka yang berusia lanjut dan anak-anak juga. Kami dibuang ke pembuangan Batara karena rajin melawan penindasan belanda yang sangat keterlaluan, debat dengan petinggi belanda sering kami lakukan sehingga kami diusi. “ bawa Budi dan si tua bangka itu ke Batara, aku sudah muat melihat mereak di Jawa” perinta jendral besar belanda. Sistem tanam paksa membuat Belanda kaya, sementara para petani harus kebingungan untuk makan nasi.

BERSAMBUNG